Mutia Kymoot Thanks God, I'm sweet. Engkau sungguh Maha Indah, indahkanlah aku, Tuhan.

Kamis, 27 Juni 2013

Blusukan ke Pantai Celeng Tibo, Pantai Kesirat dan Pantai Wohkudu

Maaf telat posting, kemarin - kemarin lagi sibuk sama tugas, sekarang makin sibuk dan ini tak sempet – sempetin, udah kangen juga dan lama gak posting :D
Minggu 9 Juni 2013
Pagi ini matahari nampak malu – malu bersembunyi di balik awan. Sido mblusuk ora iki??
            Rencananya mau mblusuk ke Pantai Kesirat dan sekitarnya, dan ini belum pernah kesini. Menurut info dari Om Icuk, Pantai ini terletak di GiriKarto, Panggang, Gunungkidul (sebelah baratnya pantai Gesing)
            Mendung tapi ada celah langit biru yang terlihat, yah mendung gak berarti hujan kan? :D
Akhirnya kita capcus untuk mblusuk. Pendekar blusuker kali ini adalah dek Mutiyaa, mas Dani dan Om Fosil. Dan berhubung si Vari habis tak mandiin dan eman – eman kalo dia kotor, ya udah akhirnya aku bonceng CB aja.
Ditengah perjalanan kita nyari air dulu di Alfamart #Ups *Sensor*. Ketika perjalanan yang udah nyampe daerah Panggang, ada kejadian yang luar biyasahh....
Kunci motornya mas Dani nlethik di jalan dan gak tau, sadarnya pas mau beli bensin. #NahLoh horo pie nek ngene ki?!!
Awalnya si motor bisa dimatiin pake kunci Vari-ku tapi gak bisa dinyalain lagi. #NahLoh. Pake kunci CB juga gak bisa!! Gimana cara ngidupinnya? Gimana cara mbukak joknya? Bensin udah limited. Gimana pulangnya? #NahLoh *mas Dhani udah galau tingkat kecamatan men!!!
Aku sama Om Fosil pun ikut ikutan galau!!! *ngremus spion*. Ada 2 pilihan, nglacak kuncinya, atau sms orang rumah buat nganterin kunci cadangan. Nah, kebetulan mas Dani make motornya temen, temennya lagi pergi jauh dan rumah temennya itu bukan di daerah Jogja, #NahLoh *mas Dani makin galau!!!*
Aku sama Om Fosil juga ikutan makin galau *ngremus stang*, iki suwe – suwe motor entek dikremusi -__-
Akhirnya aku sama Om Fosil memutuskan untuk ngelacak kuncinya mas Dani dan meninggalkan mas Dani yang sedang galau. Tenang mas, kita cari *pukpuk mas Dani*
Kita bali lagi dan nyari si kunci nyampe Alfamart tempat kita jajan tadi. Wuhh... jauh men!!! Tapi gakpapa dong!! Demi mas Dani, solidaritas antar sesama blusuker itu tinggi men!!! Dan setelah melacak sampai mata pedes gak kedip sepanjang jalan, dengan focus tingkat tinggi, dengan memacu CB dengan kecepatan 5km/jam, ngosak asik rumput si kunci GAK KETEMU men!!! #DuhMas
Ya udah, kita balik lagi ke tempat mas Dani ditinggal tadi. Dan dalam perjalanan menuju mas Dani, kita kehujanan, deras men!! Mendung tidak berarti hujan tadi gak berlaku, mendung itu berarti hujan!!!
 Kita nemuin mas Dani yang sedang terduduk sendiri, memandangi motornya, dia galau berat!! Beraaaatt!! Dia menatap aku dan Om Fosil dengan tatapan yang penuh harap. Lalu aku bilang, ”Mas, kita sudah mengusahakan mas, tapi apa daya mas, takdir berkata lain mas, kuncinya gak ketemu!!” kataku sambil ngremus knalpot.
Mas Dani terduduk lesu, galaunya sudah melewati batas ambang. “Oh kunciku!!! Maaf teman – teman, aku merusak acara blusukan ini!!!” kata mas Dani dengan nada penuh penyesalan.
Eh opo loh iki malah gawe drama eftifi :D, sante hloh mas!!!!
Lanjut yak...
Keadaan semakin genting, awan hitam bergumul di atas kita, hujan turun semakin deras, kita basah kuyup dan aku kebelet pipis #Duh.
Tiba – tiba Om Fosil berubah menjadi kodok, eh salah... berubah menjadi kasatria hijam, eh kasartria baja hitam dan mengeluarkan gunting dari tasnya. Hah?? Gunting?? Rumangsiane meh potong rambut mas?? :D
Oh, ternyata gunting itu dijadikan sebagai obeng, karena gak ada yang bawa obeng. Lalu Om Fosil dan mas Dani mengotak atik jok belakang biar bisa dibuka, aku juga bantuin, bantuin liat sama doa :D
Setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya jok bisa dibuka. Yeah bisa ngisi bensin!!
Lha tapi gimana caranya buat nyalain motornya??!! Kita kembali berjuang. Akhirnya setelah bebrapa jam kita menemukan cara, kita menggunakan teknik merengangkan sedikit ujung gunting si motor bisa dinyalain!! Klik. Yes!! Mas Dani pun bersorak – sorak kegirangan sambil loncat – loncat dan meluk Om Fosil #Weh.
Mukjizat sebuah gunting. Pelajarannya adalah setiap masalah itu pasti ada solusinya.
Hari udah siang, hujan masih turun dengan derasnya. Meh dilanjut ora ikii?? Awalnya kita ragu antara lanjut atau enggak, selain hari udah siang, kita belum tau letak pantainya dan katanya Om Icuk medan jalannya cukup sulit, ada yang harus jalan kaki selama 1 jam, pie nek tersesat jal??
Tapi karena jiwa pemblusuk kita tinggi, kita akhirnya tetep lanjoott!! Biarpun hujan deras, biarpun udah siang, biarpun pake acara kunci kecer, biarpun pacar muring kita tetep hunting dan tetep mblusuk #Eh :D
Kita kembali memacu kuda masing – masing. Setelah nemu papan bertuliskan “Pantai Kesirat” kita menyusuri jalan itu. Ternyata jalannya masih bercabang dan kita sempet bingung. Malu bertanya sesat di hatimu, eh dijalan. Dari pada tersesat kita bertanya dulu sama warga.
Setelah bermotor lagi sekitar 20 menit, garis laut dan cakrawala sudah terlihat. Hamparan bukit – bukit yang nempluk nempluk terhampar di depan mata kita. Keren!!! Jalannya naik turun, ada turunan yang tajam dan aku bengok – bengok ngeri :D (dibonceng sama bawa sendiri itu beda rasanya. Nek bawa sendiri mbok 100 km/jam gagah – gagah saja. Lha ini bonceng, widih serem gila!!!)
Setelah sampai di bibir laut, kita memarkir motor di pinggir kebonan dan mblusuk ke semak – semak. Yang kita liat sekarang bukan hamparan pasir tapi tebing – tebing curam yang ditumbuhi semak belukar serta beberapa pohon. Disitu juga ada beberapa orang yang sedang memancing, dan tentunya pantai ini adalah spot yang cukup menarik bagi para pemancing. Kita blusuk ke semak – semak, menuruni bukit, menaiki bukit dan masih pake mantrol, dan kita nemuin spot memancing yang cukup keren. Ini fotonya...
Pantai Celeng Tibo
Kenapa nama pantainya Celeng Tibo? Mungkin disini dulu ada celeng yang tibo dari sini #Duh mendah larane yahhh!!!
Tebing di sisi barat pantai Celeng Tibo
Disisi timur pantai ini ada pantai lagi yang berbeda, pantai ini juga pantai yang dijadikan spot memancing.
Pantai Kesirat
Tersirat cinta di pantai Kesirat, halah.... opo meneh ikihh!!
Lalu kita mencari jalan menuju pantai Woh Kudu yang fotonya pernah di tag sama Om Icuk. Kita mblusuk ke semak – semak, mengintip ke dalam hutan serat, menaiki bukit, berharap dibalik semua itu ada hamparan pasir yang luas si pantai Woh Kudu itu, tapi hasilnya nihil.
Akhirnya kita menuju tempat motor di pakir tadi dan bermotor balik lewat jalan tadi. Setelah sekitar 200 meter kita berhenti lagi, memarkir motor lagi dan berjalan menaiki bukit membelah semak – semak berharap ketemu si pantai itu. Tapi lagi – lagi kita ter-PHP. Hasilnya nihil.
Kita memacu motor lagi, sampai ketemu ibuk - ibuk yang sedang merumput dan kita tanya. Setelah mendapat ancer – ancer kita bermotor lagi.
Setelah nemu sebuah gubuk yang dibilang si ibu tadi, kita memarkir motor dan memblusuk membelah semak – semak. Kita berjalan sekitar 1 km dengan lama waktu sekitar 45 menit, cukup lama karena selain hujan, medan yang kita lewati cukup membingungkan dan harus mblusuk – mblusuk, kita harus menaiki bukit, menuruni bukit dan menerobos semak – semak. Kita sempet ragu – ragu sama jalan kita, tadi ibuknya bilang kalau cuman deket gitu, lha mana ini pantainya kok gak nemu nemu??
Kita masih terus berjalan di sela – sela bukit yang menjulang tinggi di samping kita. Jangan – jangan ibuknya tadi itu makhluk jadi – jadian yang mau menyesatkan kita? Jangan – jangan kita tersesat? Waduw....
Tapi kemudian samar – samar terdengar deburan ombak. Waikih!!! Pantai iki!!! Tanpa sadar kita semakin mempercepat langkah kita karena penasaran dengan deburan ombak itu. kita menerjang semak – semak belukar yang mayoritas tumbuhan itu adalah tumbuhan duri, kita gak peduli. Pantai mana pantai??!!!
Dan setelah berjuang menerobo semak, mengitari, menaiki dan menuruni bukit, liat apa yang ada di depan kita!!!!
Jeng jeng....
Pantai Woh Kudu
Wohhh.... ini keren men!!! Hamparan rumpu hijau, pasir putih, batu – batu karang dan bibir pantai yang diapit bukit yang tinggi. Gak sia – sia ini!!!
Pantai Woh Kudu
Ada lekukan karang yang bisa dijadikan tempat berlindung dari hujan :D
Lensa berembun karena hujan dan motret sebisanya (gak tau itu foto langit di pantai yang atas – atas tadi bisa biru :D #HasilBelajarSamaSpesialisLangitBiru :D)
Foto dulu
Hujan masih turun dengan derasnya, nafsu memotret juga loyo gara – gara hujan, langit biru mana langit biru?!!!!
Ya udah kita memutuskan untuk pulang, masih dengan hujan yang deras dan jalan naik yang licin dan serem lalu aku teriak – teriak lagi. Serem diap!!!
Semangkuk bakso menjadi penutup blusukan hari ini.
Salam Mblusuk!!
Besuk mblusuk kemana lagi ya, kehatimu boleh?? #Eaaaa

12 komentar:

  1. Mantap langit birune :-)

    BalasHapus
  2. ckckck, kanca2 mu kae selain bakat motret yo bakat dadi maling yo mbak Mut, hahaha :D

    eh, nek pantai iki iso numpak mobil ra toh? pas lebaran aq meh ngajak Pakdheku hobine motret mrene. Mosok le motret pasir merapi terus. Bosen..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah yo kui mas :D, the powers of kefefets emang luar biasa, tapi ojo ditiru dinggo maling yoo :D

      bisa mas, tapi gak bisa sampai ke pantainya, jadi mobil di parkir di pinggir jalan, untuk selanjutnya kudu jalan kaki blusukan.
      sesuk gek motret pantai - pantai di Gunungkidul mas, aku tak motret pasir merapi genti :D

      Hapus
  3. mbak bisa kasih informasi rute ke sana nya nggak mbak..lewat mana dan pemberhentian terakhir dimana mbak?? start dari janti ya mbak..

    BalasHapus
  4. wah seru ceritanya mbak mantep ada mas wijna juga ihik :)

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. sangat menarik dan menantang!
    besok pagi 27 Nov 2014, kami berentjana ke sana... semoga tjuatja mendukung! dan tdk nyasar....
    untuk melengkapi tulisan di 'andreasseluassamodra.blogspot.com'

    BalasHapus