Mutia Kymoot Thanks God, I'm sweet. Engkau sungguh Maha Indah, indahkanlah aku, Tuhan.

Senin, 23 Februari 2015

Wanita Petualang Memang Tidak Pantas Dipacari


Tak ada yang menyangkal. Wanita petualang sangat menarik. Mata yang selalu hidup, raut muka yang selalu penuh semangat, sifatnya supel, dia adalah teman yang  baik. Pesonanya misterius, selalu mampu menghidupkan suasana. Energinya tak pernah habis. Selalu tertawa lepas. Tangguh, mandiri.
Beberapa baris kalimat di atas saya kutip dari salah satu website yang membahas tentang “cewek gila”. Penulis itu pastilah cowok yang sangat pengertian, karena dia faham sekali dengan apa yang dirasakan “cewek gila” dalam ceritanya. Buktinya, saya selalu meng-IYA-kan tiap kalimat yang penulis tuangkan dalam website itu, tentang 5 Alasan Jangan Pacari Wanita Petualang.

Oh iya... saya bukan wanita petualang seperti apa yang dijadikan judul penulis. Saya hanya merasa kalau saya gila, meskipun saya tidak seliar mereka.

Mereka, para wanita yang selalu di basecamp dan tidak pernah pulang. Saya masih ingat rumah, saya masih ingat Bapak yang selalu menitipkan kepercayaan kepada anak perempuan satu-satunya agar tetap berada di jalan Tuhan, saya masih ingat Ibu yang selalu merasa cemas, tidak bisa tidur dan marah ketika saya pulang larut malam atau tidak pulang tanpa memberi kabar. Saya masih rindu Ibu memarahi saya ketika saya pulang dari bertengger di puncak gunung. Saya masih rindu Ibu yang ketika memarahi saya kemudian menyiapkan air hangat untuk saya mandi dan memijiti saya saat saya hendak tidur. Dan sampai sekarang pun Ibu saya selalu marah ketika saya minta ijin untuk naik gunung. “Kalau udah pernah naik gunung sekali itu mbok ya udah, semua gunung ya sama aja kayak gitu kok,” katanya.
Dan mungkin saya bukan anak penurut, anak yang betah dirumah, anak yang pintar meracik bumbu di dapur atau anak yang rajin membersihkan rumah.
Saya mungkin gila. Saya gila dengan keindahan alam, saya gila dengan ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa indahnya. Saya tidak pernah bosan mengagumi  keindahan itu. Di puncak gunung, di laut, di goa, di tebing, di air terjun, di hatimu..... #ehh fokus.
Iya, saya suka petualangan, saya suka naik gunung, saya suka mainan tali (tali carmantel lho bukan tali kutang #eh). Kalau mayoritas cewek takut item kepanggang sinar matahari, saya suka panas-panasan (tapi gak suka kalo hatinya yang panas gara2 liat dia sama dia, eehhhh). Kalau mayoritas cewek suka dandan syantik nan feminim, saya lebih suka jeans, kaos dan flanel sama sepatu gunung atau sandal gunung. Sepatu gunung itu lebih seksi dari pada sepatu yang ada ganjelnya di belakang setinggi 15 cm itu (meskipun saya dulu juga pernah dandan feminim, dan mungkin dulu saya sedang khilaf).
Ada beberapa kalimat yang bikin bibir saya melengkung ke atas dan membuat saya bilang “ho’o yo” sekaligus bilang “yo ora juga sih”.
Saya tekankan: pada dasarnya susah menyenangkan hatinya dengan cara konvensional. Butuh usaha ekstra.
Semua wanita suka surprise satu buket bunga di depan pintunya, atau ajakan makan di sebuah restoran romantis. Begitu juga dia. Dia mnungkin tersenyum di depan saya, tapi tak ada yang tahu tentang kepuasan hatinya. Saya tak pernah bilang dia tak dapat menikmati film atau konsep kencan konvensional, dia suka, hanya saja mungkin dia tak puas.
Dia tak seperti wanita kebanykan yang dapat saya ajak kencan ke bioskop atau makan bersama tiap malam. Dia tak selalu membalas pesan pendek, bahkan menghapus puisi-puisi romantis yang saya kirimkan.
Seperti yang disampaikan penulis, sebenarnya sangat mudah sekali menyenangkan hatinya (hatinya, dia si cewek gila), berdecak kagum, bahkan membuatnya teriak-teriak kegirangan dan spontan memeluk anda #eh.
Dia suka surprise bunga mawar merah yang cantik tapi dia akan lebih suka ketika tiba2 kamu datang ke rumahnya, mengajaknya pergi untuk melihat matahari terbit di puncak gunung, memandangi hamparan kasur berwarna putih bebahan awan dan menikmati secangkir kopi rasa sarimi. Iya, dia hanya butuh secangkir kopi rasa sarimi di puncak gunung, bersama kamu.
Dia suka makan malam di restoran yang penuh lilin tapi dia lebih suka makan sarimi dan nyruput kopi di tepi pantai, tiduran di atas pasir sembari memandangi langit malam berlukiskan milky way dan bertaburan bintang yang menjadi atap tidurnya malam itu.
Dia suka menonton film di bioskop, yang menegangkan sekalipun, entah yang bercerita tentang laki-laki buruk rupa yang menyelamatkan sang putri, atau menceritakan kuntilanak yang melahirkan di atas lemari. Tapi dia lebih suka ketika kamu mengajaknya di atas tebing terjal, air terjun yang tinggi, goa yang dalam dan gelap. Dia akan lebih suka memandangi gulungan karmantel dan gemerincing carabiner yang bergesekan dari pada teriakan kuntilanak yang melahirkan di atas lemari. Dia akan lebih suka ketika kamu ajak naik moto trail trabas hutan atau sungai dari pada mendengar dan melihat film yang bercerita tentang laki-laki buruk rupa yang menyelamatkan sang putri.

*Kembali saya manggut-manggut sembari me-nyekroll layar demok di tangan saya. Ini persis ketika dulu saya pernah mempunyai pacar yang tidak suka dengan hobi saya.*
Saat saya benar-benar panik karena seharian tak ada kabar apapun darinya, pada malam hari ia memposting foto one day trip-nya berkeliling kota. Tanpa rencana apapun. Semua serba spontan. Dia selalu berpergian. Dengan mudahnya ia akrab dengan banyak orang dalam perjalanan. Saat itu, saya bahkan tak masuk dalam radarnya.
Saat pesan pendek tak pernah dibalasnya dan justru tak lama kemudian dia memposting fotonya di Danau Toba bersama teman-teman yang dia temui di perjalanan, tak banyak hal yang dapat saya lakukan. Memprotesnya? Tentu, setelah itu dia akan mendiamkan saya dalam beberapa hari.
Kalimat-kalimat di atas sungguh membuat saya cengar cengir. Iya, cewek gila itu suka pergi tanpa rencana dan mudah akrab dengan orang-orang baru dalam perjalannya. Dia akan malas menanggapi pesan-pesan pendek yang hanya berisikan ucapan “Selamat pagi”, “Selamat siang, jangan lupa makan”. Setau saya di pelajaran IPS jaman SD dulu dijelaskan, makan adalah salah satu kebutuhan primer manusia. Lalu kalau gak diingetin makan kamu gak makan? Manja. Aleman. Paling saya balas “kamu juga jangan lupa makan, nanti mati”, atau “makan yang banyak, gak perlu pulang kampong” heuheuuu. Atau ucapan “met bobo, mimpi indah eaaa”, mungkin saya hanya balas “selamat tidur juga, jangan lupa mimpiin sapi ya”. Udah gitu aja.
Sebagian besar orang kalimat-kalimat “jangan lupa makan”, “met bobo mimpi indah eaaa” dan sebagainya itu adalah romantis, tapi bagi cewek gila, itu lebay menn!!
Tapi saya merasa aneh dengan diri saya sendiri dan ini mungkin memang sudah kodratnya wanita. Cewek itu kalau ditanya atau ditawari sesuatu jawabnya “terserah”. Dan benar, itu membuat cowok mati kutu dengan jawaban “terserah”. Ketika sang cowok menawarkan sesuatu eh dia minta opsi lain. Ditawari lagi akhirnya dia menentukan pilihannya sendiri yang beda dengan opsi-opsi yang diberikan si cowok. Nah... cewek itu tidak butuh pertanyaan atau tawaran, dia butuh ajakan.
Dia hanya membutuhkan seorang pria yang dapat bersaing dengannya. Bersaing dengan imanjasi-imajinasi liarnya tentang alam. Dia membutuhkan seorang yang akan selalu membuatnya berfikir dia memiliki tempat pulang. Saat dia menyukai seorang pria, seperti halnya kesukaannya pada perjalanan dan petualangan, dia akan selalu penuh semangat menjalani hubungan. Dia jauh lebih setia dari apa yang pernah terbayangkan sebelumnya.
Ohh.. sungguh sang penulis di website itu adalah laki-laki yang sangat pengertian, pasti dia menjadi suami yang baik, apalagi dengan kalimatnya yang ia sampaikan sebagai pamungkas tulisannya itu. “Karena itulah saya tak akan pernah memacarinya, saya akan meminangnya sebagai pendamping hidup”.
Tapi buat saya, saya tidak hanya butuh pria yang dapat bersaing tentang imajinasi liar itu, membawaku mengagumi kebesaran Tuhan di tempat-tempat yang luar biasa, yang bisa mengubah kata "heleh" menjadi "Wah". Tetapi dia yang mampu membimbingku untuk dekat dengan Tuhan.

5 komentar:

  1. Buat saya, setangguh apapun seorang wanita petualang, dia tetaplah wanita. Yaaah... mungkin dia memang "sedikit" berbeda dari wanita pada umumnya. Lebih mandiri dan lebih menyenangi tantangan. Tapi itulah menariknya hidup. Setiap orang berbeda dan memiliki daya tariknya masing-masing.

    BalasHapus
  2. ini putri alam kebanggan jogja .... hehe sundul sesepuh di atas ada mas wijna jugah hehe....lanjut mbak mutia joshe dah.... semoga gak kesangkut tali yang laeenn haseehhh

    BalasHapus
  3. Joss...
    Kunjungi jg gan..
    Warisanpetualang.com

    BalasHapus
  4. Joss...
    Kunjungi jg gan..
    Warisanpetualang.com

    BalasHapus